My favorite sin

My Favourite Sins: Ketika Kak Seto pun berdosa…

Dimuat Redaktur Nov 18th, 2009

Lukisan "Si Komo Hidup Lagi" karya Muhammad Lugas Syllabus.
Lukisan “Si Komo Hidup Lagi” karya Muhammad Lugas Syllabus.

Seniman memang hebat. Mereka bisa memperlihatkan gambar-gambar tentang dosa. Padahal dosa tidak berwujud. Bahkan seniman bisa memilih mana dosa-dosa yang favorit bagi mereka serta siapa-siapa pelaku dosa itu.

Simak lukisan berjudul “Si Komo Hidup Lagi” yang digambar seniman muda Lugas Syllabus yang menampilkan gambar boneka Si Komo karya Kak Seto yang pernah populer di TV tahun 1990-an. Ada bentuk-bentuk orang yang dibuat kecil dalam lukisan ini menyerupai sosok Syeh Puji yang menikahi anak belum dewasa, serta sosok Ponari yang hadir bersama batu ajaib penyembuh

Bagi Lugas, Kak Seto yang identik dengan boneka Si Komo adalah pendosa, sosok egois karena ia muncul pada peristiwa mengenai persoalan anak-anak yang sedang disorot publik melalui media massa. Padahal banyak sekali kasus perkawinan salah yang terjadi pada anak usia dini.

Lukisan "Mengapa Ada Bangunan Sebesar Ini Di Ladangku" karya Imam Santoso.
Lukisan “Mengapa Ada Bangunan Sebesar Ini Di Ladangku” karya Imam Santoso.

“Kita curiga jangan-jangan Kak Seto ingin mengambil alih perhatian yang ada. Karena sebenarnya banyak sekali kasus serupa,” jelas Lugas seraya menambahkan apa yang dilakukan Kak Seto itu adalah dosa-dosa favorit kita. “Manusia ketika ada peluang, langsung diambil alih,”jelasnya.

Kalau dosa favorit Imam Santoso lain lagi, mahasiswa satu angkatan dengan Lugas di ISI Yogyakarta memunculkan wujud dosa yang begitu dekat dengan siapapun. Mengumpat. Dalam karyanya berjudul “Menu Mengumpat Hari Ini” contohnya, Imam Santoso sedang menunjukkan wujud dosa dalam bentuk ucapan, perkataan menggunakan jenis hewan seperti kadal, babi, kambing, anjing dan manusia.

Lugas Syllabus berpose didepan lukisan " Jin Ketemu Tuyul"
Lugas Syllabus berpose didepan lukisan ” Jin Ketemu Tuyul”

Beberapa karya yang disebutkan diatas dan belasan karya lukis serta beberapa karya lukis panel serta instalasi milik Imam Santoso dan Muhammad Lugas Syllabus itu kini tengah dipamerkan di Galeri Tembi Contemporary Southeast Asian Art. Tajuk pameran ini adalah “My Favourite Sins” dan akan menghiasi ruang pamer Tembi Contemporary 17 November hingga 5 Desember 2009 mendatang.

Karya-karya yang ditampilkan Imam Santoso dan Muhammad Lugas Syllabus (nama asli Lugas) menurut Michael Vatikiotis, lukisan dua seniman belia ini sangat sedap dipandang karena memunculkan warna-warna tegas modern dalam bentuk-bentuk familier yang mampu memikat penonton ke dalam kenyamanan palsu.

Imam Santoso didepan karyanya "Maaf Sepertinya Kursi Anda Terlalu Besar"
Imam Santoso didepan karyanya “Maaf Sepertinya Kursi Anda Terlalu Besar”

Namun buru-buru Michael yang tinggal di Singapura ini berpesan,”Jangan tertipu oleh nunasa lembut warna akrilik dan citraan plastik, sebab dalam adegan manis gula-gula ini tersimpan protes lirih  dan rintihan minta tolong dalam sebuah era yang dibanjiri stimulasi media yang kering akan jawaban.

Di mata Michael Vatikiotis, Imam dan Lugas terkena pengaruh background kebeliaan mereka dalam budaya pop modern yang ditampilkan secara tajam sehingga menghasilkan pengalaman menonton lebih dramatis.

seorang pengunjung sedang memperhatikan dengan serius lukisan Lugas Syllabus berjudul "Maaf Cuma Ganti Lampu Kok".
seorang pengunjung sedang memperhatikan dengan serius lukisan Lugas Syllabus berjudul “Maaf Cuma Ganti Lampu Kok”.

Imam Santoso misalnya pada karya berjudul “Mengapa ada bangunan sebesar ini diladangku?” menggunakan gambar-gambar lebih serius dan diulang-ulang guna menyampaikan nuansa mendalam tentang penderitaan manusia.

Atau dalam instalasi berupa korek api raksasa berjudul “Super Dead” misalnya, Imam menciptakan karya yang menyimbolkan dosa yang secara bersama-sama dilakukan tanpa disadari akan mendatangkan penderitan karena korek api adalah hasil pembalakan hutan.

“(Korek api) sebenarnya pembalakan hutan yang diiyakan. Itu bisa masuk ke (tema) favorit sin itu sendiri,” kata Imam.

Sementara Lugas Syllabus, bagi Michael, anak muda kelahiran Bengkulu itu tengah menghadirkan dunia yang dihuni individual egois dan menggambarkan mereka sebagai stereotif yang familier, yang muncul pada gambara sosok Kak Seto sebagai figur populer masyarakat atau gambar-gambar hewan sebagai bahan umpatan orang-orang sehari-hari.

Sosok familier juga dihadirkan Lugas dalam bentuk Jin dan Tuyul dalam karyanya berjudul “Jin Ketemu Tuyul”. Jin dan tuyul menurut Lugas adalah simbol untuk memohon permintaan dimana sebenarnya disitulah tempatnya dosa yang hampir ada pada manusia.

“Saya ingin menyampaikan hal-hal problemati, egoisme yang terjadi pada diri saya sendiri, yang terjadi di luar diri saya sendiri  dan bisa menjadi cermin pada diri sendiri,” jelas Lugas Syllabus.

Sementara bagi Bambang Wicaksono, dosen Imam Santoso dan Lugas Syllabus di ISI  menilai karya-karya Lugas adalah cerminan dari karakter Lugas sendiri yang selalu menceritakan semua hal. “semua ingin dikeluarkan. Sudah ada figur dan komposisi yang ramai tapi masih memasukkan bidang-bidang sehingga terlalu banyak,” ujar Bambang.

Karya-karya Lugas, menurut Bambang adalah cerminan yang jujur terhadap persoalan-persoalan dan tidak hanya mencerminkan perupanya saja.

Terhadap Imam Santoso, Bambang menilai, karya-karya Imam lebih banyak bereksplorasi pada figur-figur yang diolah dengan garis-garis warna hitam yang kental. “Karya-karya Imam lebih liris lebih sastra,” jelas dosen yang perupa juga ini.

Pria yang sering dipanggil Bambang Toko ini memberi kritik, karya-karya Imam dan Lugas mengalami kesulitan ketika harus memilih mana-mana hal yang harus dipertontonkan karena begitu ramainya eksplorasi yang dimainkan dalam karya-karya mereka.

“Ketika akan dipamerkan, karya-karya (yang ramai) itu harus selesai. Itu yang susah. Semua digambarkan,” ujar Bambang. (The Real Jogja/joe)

Categories: FEATURES, PAMERAN DAN FESTIVAL, THE REAL JOGJA

Advertisements

About lugassyllabus

"Born in Bengkulu 30 april 1987, he’s study at Indonesian institute of arts Jogyakarta. Lugas is a visual artist majority in painting th
This entry was posted in Syllabus Show. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s